Kamis, 04 Januari 2024

S.M.A.W ( SHIELDED METAL ARC WELDING ) LAS LISTRIK BUSUR TERLINDUNG


I. 1.  Teknologi pengelasan logam.


                    Pengelasan adalah pekerjaan penyambungan logam dengan menggunakan proses                         pemanasan setempat, sehingga terjadi ikatan metalurgis antara logam yang disambung.

 


Untuk mendapatkan ikatan metalurgis tersebut, logam induk (base metal) dan logam pengisi (filler metal) harus dicairkan setempat dengan energi panas.Penggunaan panas dalam pengelasan ini, selain mencairkan logam setempat, dan juga ada pengaruh panas terhadap logam sekelilingnya, yang mempengaruhi sifat-sifat logampada suatu daerah tertentu yang dikenal dengan sebutan “ Daerah Terpengaruh Panas “ (HAZ = Heat Affected Zone).

I.   Prinsip kerja.

Ø Pada proses las elektroda terbungkus , busur api listrik yang terjadi antara ujung elektroda dan logam induk, yang akan menghasilkan energi panas..

Ø Energi panas inilah yang akan mecairkan ujung kawat elektroda dan bahan induk secara setempat.

Ø   Dua logam induk yang bersama sama sedang mencair, akan bercampur (mixture) dengan logam cair yang berasal dari kawat las (filler metal),yang membentuk kawah cair (weld pool) dan kemudian akan terjadi proses pembekuan (solidification of weld metal) logam las.

Jenis arus yang digunakan ada dua yaitu :

Ø  Mesin Las dengan arus Bolak Balik (AC)

Ø  Mesin Las dengan arus searah(DC)

 Pada arus DC ini, dapat digunakan dua polaritas, yaitu :

a.  DCEN (Direct Current Electrode Negative)

b.  DCEP (Direct Current Electrode Positive

 



Mesin las yang merupakan sumber tenaga pembangkit atau dikenal dengan istilah power source, yang dilengkapi dengan dua kabel las yaitu kabel las ke holder dan kabel las ke massa ( grounded ). Kabel las disambungkan dengan holder dan kabel massa disambungkan pada klem massa, dan posisi elektroda dijepit oleh holder dan benda kerja dihubungkan dengan klem massa, sehingga akan membentuk sirkuit listrik bila busur las menyala.

Ujung elektroda las digoreskan pada benda kerja las dan jarak busur las ( stick-out ) dipertahankan tetap sehingga panas dari busur listrik yang terjadi, akan mencairkan elektroda las dan benda kerja. Panas masukan untuk pengelasan ini dapat dituliskan dalam bentuk rumus sebagai berikut : H =

 

Dimana : H = Panas masukan ( Joule/mm ).

E = Voltage. I = Ampere.

V = Kecepatan pengelasan ( mm/dtk

 

Adanya pengaruh efisiensi perpindahan panas, maka tidak seluruh panas ini berguna untuk pengelasan. Besarnya masukan ( heat-input ) menjadi :


Hnet= E ´ I ´ f1 .

V


f1 adalah efisiensi perpindahan panas yang besarnya antara 0,8 sampai 1.

 

I. 3. Posisi Pengelasan.

Posisi pengelasan adalah faktor penentu dari keberhasilan pengerjaan pengelasan itu sendiri, sehingga posisi pengelasan mempunyai tingkat kesulitan yang harus dicapai, yang tidak sama satu sama lain. Kharakter pengelasan secara umum terbagi dalam dua (2) katagori utama yaitu pengelasan satu layer ( single pass ) atau dikenal dengan sebutan Fillet Welding, dengan symbol F. Yang kedua adalah pengelasan untuk beberapa layer ( multi-pass ) atau dikenal dengan sebutan Groove- Welding, dengan symbol G.

Aturan penomoran untuk sambungan las fillet pada setiap posisi pengelasan adalah sebagai berikut :

1  F = posisi pengelasan datar ( Plat Position )

2  F = posisi pengelasan horizontal ( Horinzontal Position )

3  F = posisi pengelasan vertical ( Vertical Position )

4  F = posisi pengelasan diatas kepala (Over head Position )

Aturan penomoran untuk sambungan las Groove pada setiap posisi pengelasan adalah sebagai berikut :

1  G = posisi pengelasan datar ( Plat Position )

2  G = posisi pengelasan horizontal ( Horinzontal Position )

3  G = posisi pengelasan vertical ( Vertical Position )

4  G = posisi pengelasan diatas kepala (Over head Position )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengertian Wirausaha dan Karakter Wirausahawan

 Pengertian Kewirausahaan Tentunya kita sering mendengar istilah wirausaha atau entrepreneur. Istilah entrepreneur pertama kali diperkenalka...